Mading Logis 2022 Volume 3 : “Kamu Pahlawan Terhebat bagi Dirimu!”

Halo Sahabat Logis! Kita berjumpa lagi di Mading Logis Online UKM Pendidikan dan Penalaran Politeknik Negeri Malang Vol. 3. Gimana nih? Sahabat Logis pada penasaran kan topik yang akan dibahas? Pastinya tanggal 10 November 2022 kemarin Sahabat Logis telah memperingati Hari Pahlawan Nasional. Kali ini, Mading Logis akan membahas tentang kisah perjuangan para pahlawan, perjuangan yang berkaitan dengan pendidikan, serta pesan dari para pahlawan untuk generasi muda. Yuk, mari kita simak bersama-sama ya Sahabat Logis!

Sahabat Logis tahu nggak sih tentang sosok pahlawan-pahlawan yang berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan di Indonesia? Para tokoh ini diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia loh. Tanpa berlama-lama lagi, yuk simak ringkasan perjuangan sepuluh pahlawan yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia ini!

Sahabat Logis pasti kalian mengenal Ir. Soekarno kan? Beliau adalah presiden pertama di Indonesia. Banyak kisah perjuangan sudah ditulis dalam buku-buku sejarah sebagai bahan ajar di sekolah. Ada beberapa hal dari kisah perjuangan beliau bisa kita ambil sebagai masukan yang menginspirasi. Sejak usia muda, para pemimpin bangsa sudah belajar hidup mandiri, bahkan diajarkan orang tua agar tak menjadi anak manja, atau menjadi anak rumahan yang hanya belajar. Mereka diajak keluar dari keluarga besar menghadapi berbagai tantangan. Terlibat aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan bertemu tokoh-tokoh besar. Insinyur muda ini bukannya memilih bekerja pada perusahaan Belanda, malahan menjadi tahanannya, ia ditangkap beberapa kali, dipenjarakan di Banceuy lalu dipindahkan ke Sukamiskin. Setelah dilepaskan, ditangkap lagi, lalu diasingkan ke Flores dan ke Bengkulu, la baru dilepaskan pada masa penjajahan Jepang (1942).

Jadi, sejarah Bung Karno agak mirip dengan Nelson Mandela yang juga dipenjara sepanjang usia mudanya. Tapi apa yang membuat mereka mempunyai kesamaan adalah semangat ke bangsaannya yang tak pernah pudar. Dimanapun mereka diasingkan, selalu saja ada yang dikerjakan. Sayap-sayap mereka tak pernah patah atau diikat oleh belenggu apapun. Mereka fokus pada apa yang mereka percayai, tak pernah mundur dalam menghadapi tantangan kehidupan. Itu sebabnya, Soekarno (bersama Bung Hatta) begitu lincah mengumandangkan kemerdekaan Indonesia dengan memanfaatkan kelemahan Jepang yang saat itu hendak menunggangi tokoh-tokoh pergerakan Indonesia.

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 sebagai seorang anak keluarga kraton. Dalam sejarah beliau tercatat sebagai seorang aktivis pejuang kemerdekaan, Kolumnis, politisi dan pelopor pendidikan. Salah satu pemikiran beliau adalah manusia memilki daya jiwa yaitu cipta, karsa, dan karya. Menurut beliau manusia akan berkembang apabila ketiga daya jiwa bisa dikembangkan. Apabila hanya daya ciptanya saja yang dikembangkan dan daya karsanya diabaikan yang terjadi adalah manusia yang baik secara intelektual tapi tidak memiliki kemampuan bermasyarakat yang baik. Pemikiran mengenai harus adanya keseimbangan daya jiwa yaitu cipta, karsa, dan karya betul-betul diwujudkan. Apabila benar-benar diwujudkan pastilah negeri ini akan melahirkan generasi yang kokoh dan tangguh. Generasi yang tidak mudah murah dan generasi yang berprestasi di mana pun dia berada. Tokoh Ki Hajar Dewantara akan terlahir kembali melalui semangat nasionalismenya pada generasi Indonesia.

Jangan lupakan sejarah, karena sejarah adalah ilmu yang nyata. Sejarah bisa jadi pelajaran yang berharga apabila ada hal baik yang terjadi pada masa lampau bisa diliat prosesnya untuk ditiru untuk mencapai kebaikan disaat sekarang. Belajar dari makna sejarah dari kisah Ki Hajar Dewantara dengan segala pemikirannya adalah pelajaran berharga yang harus di pakai untuk membangun generasi di masa depan.

Raden Dewi Sartika merupakan salah satu pejuang emansipasi wanita yang dilahirkan di keluarga priyayi Sunda pada tanggal 4 Desember 1884 di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Kedua orang tuanya merupakan pejuang yang menentang pemerintahan Hindia-Belanda. Raden Dewi Sartika sudah memiliki minat terhadap pendidikan sedari ia kecil. Kedua orang tuanyalah yang memperkenalkannya dengan dunia pendidikan, walaupun hal itu bertentangan dengan pandangan masyarakat terhadap perempuan pada masa itu.

Pada tanggal 16 Januari 1904, Dewi Sartika mendirikan Sekolah Istri di Bandung. Sekolah ini merupakan sekolah perempuan pertama dan tertua di Indonesia. Di sekolah inilah para wanita diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Tidak hanya itu, mereka juga diajarkan cara menjahit, merenda, dan sebagainya. Tekad Raden Dewi Sartika sangatlah kuat untuk mendirikan Sekolah Istri. Hal ini disebabkan oleh pandangan masyarakat yang menganggap bahwa perempuan lebih lemah daripada laki-laki. Selain itu, banyak perempuan yang dipaksa untuk menikah bahkan diusianya yang masih belia. Hal inilah yang membuat Dewi Sartika bertekad untuk melakukan emansipasi perempuan.

Raden Adjeng Kartini merupakan sosok wanita pribumi yang terlahir dari kalangan bangsawan. Anak kelima dari 11 saudara ini dikenal sangat gemar membaca. Pada masa remajanya, ada satu koran Semarang yang rutin dia baca yakni De Locomotief. Kartini juga kerap menerima paket majalah yang diedarkan oleh toko buku kepada para pelanggannya. Antara lain, majalah wanita Belanda dan De HollandscheLelie. Kartini banyak membaca untuk “membongkar” belenggu pingitan selama 6 tahun. Ia pun rajin menulis tentang dirinya sendiri dan mengutarakan pikirannya mengenai pandangan sosial politik. Hingga suatu hari, Kartini menulis surat kepada istri Menteri Kebudayaan, Agama, dan Industri Hindia Belanda, JH Abendanon.

Raden Ajeng Kartini tidak mengalami masa tuanya. Dia tutup usia saat menginjak 25 tahun, pada 17 September 1904 di Rembang. Surat-surat yang dibuatnya kala itu kemudian diterbitkan menjadi buku oleh sahabat karibnya saat menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, JH Abendanon. Banyak surat-surat Kartini yang diterjemahkan dari mulai bahasa Belanda, bahasa Inggris serta dialih bahasakan oleh Agnes L Symmers. Juga pernah diterjemahkan ke bahasa Jawa dan Sunda. Surat-surat Kartini dibukukan dan diterbitkan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Jasa-jasa dan perjuangan Kartini diabadikan pada Museum Kartini di kota kelahirannya, Jepara.

Jenderal Soedirman merupakan salah satu Pahlawan Revolusi Indonesia yang dikenal gigih dan pemberani. Dalam sejarah perjuangan Indonesia, meskipun sedang menderita penyakit paru-paru, beliau tetap berjuang dan bergerilya bersama para prajuritnya melawan tentara Belanda pada Agresi Militer II. Maka tidak heran apabila perjuangan Jenderal Soedirman banyak menginspirasi bangsa Indonesia. Pada zaman penjajahan Jepang, Soedirman bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor.

Pasca Indonesia merdeka dari penjajahan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Kemudian beliau diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya setelah menyelesaikan pendidikannya. Perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda dari November sampai Desember 1945 adalah perang besar pertama yang ia pimpin. Setelah Soedirman memenangkan pertempuran, Presiden Soekarno pun melantiknya sebagai Jenderal. Soedirman merupakan Panglima Besar pertama. Pada 1997, Sudirman dianugerahi pangkat Jenderal Bintang Lima karena jasa-jasanya sebagai Bapak TNI.

Kolonialisme Belanda melahirkan banyak penderitaan rakyat seperti monopoli sumber daya alam, kerja rodi, kenaikan panjak, dan juga kekerasan dan tindakan asusila yang ditujukkan pada rakyat. Selain bertindak semena-mena terhadap rakyat, Belanda juga berperilaku licik dan tidak menghormati kerajaan-kerajaan di Jawa. Menurut Vira Maulisa Dewi dalam jurnal Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830 (2020), semakin tertindasnya rakyat dan kehormatan tradisi Jawa yang semakin hilang memperteguh keputusan Pangeran Dipenegoro untuk merebut kembali Pulau Jawa.

Pangeran Diponegoro dikenal sebagai seorang pemimpin yang bisa dijadikan teladan. Menurut Ajat Sudrajat dalam jurnal Perang Diponegoro: Antara Gerakan Mahdisme dan Mistisisme Islam (1998), saat itu Pangeran Diponegoro berhasil membuktikan dirinya sebagai seorang pemilik tanah dan perkebunan yang cakap, cerdik dalam mengelola keuangan serta terbuka dan penuh tenggang rasa kepada orang-orang yang menyewa atau menggarap tanahnya. Dalam masa perjuangannya melawan kolonial, Pangeran Diponegoro memiliki banyak tawanan perang. Namun, Pangeran Dipenogoro selalu memperlakukan tawanan perang tersebut dengan baik dan mengampuni mereka. Sehingga, tidak jarang para tawanan perang tersebut berbalik berpihak ke Pangeran Diponegoro. Jiwa kepemimpinannya membuat Pangeran Diponegoro sangat dihormati juga dicintai rakyatnya, dan layak untuk ditiru oleh para pemimpin masa kini.

Kita kerap mendengar jargon “merdeka atau mati”. Kata-kata itu berasal dari Bung Tomo yang dicetuskannya ketika ia menggelorakan semangat para pejuang pada Pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Momen yang kelak kita kenang sebagai Hari Pahlawan. Sutomo atau yang lebih dikenal dengan Bung Tomo adalah seorang nasionalis yang ingin mati-matian membela Tanah Airnya. Ia tak hanya tokoh dalam perang melawan penjajah. Pemuda kelahiran Surabaya, 3 Oktober 1920 ini pernah menjadi jurnalis dan aktif dalam kelompok politik dan sosial. Pada masa-masa setelah proklamasi kemerdekaan, suasana di Surabaya mencekam. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, tentara Inggris yang tergabung dalam AlliedForces Netherlands East Indies (AFNEI) datang ke Surabaya bersama dengan tentara Netherlands Indies CivilAdministration (NICA). Pertempuran terjadi dan Bung Tomo terus menggelorakan semangat rakyat untuk menentang penjajah. Ia meneriaki orasi yang kita kenal sampai sekarang:

“… Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik kita hancur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!”

Beliau adalah seorang bertubuh kecil dengan peran yang sangat besar dalam mewujudkan momentum kemerdekaan Indonesia bernama Sutan Sjahrir atau lebih akrab dipanggil ‘Bung Kecil’ oleh rekan-rekan seperjuangan. Berdasarkan kacamata Indonesia, bangsa ini memang sudah merdeka, tapi masih sangat rapuh. Untuk menjaga status kemerdekaan yang masih bayi ini, Negara Indonesia membutuhkan bentuk sistem pemerintahan yang jelas dan terstruktur. Pasca kemerdekaan, Indonesia memiliki 2 PR besar, yaitu upaya mempertahankan status kemerdekaan dari serangan militer Belanda maupun daerah-daerah terpencil yang masih dikuasai sisa tentara Jepang dan upaya memenangkan pengakuan dunia internasional yang perlu diperjuangkan dalam bentuk perundingan dan perjanjian. Pada akhirnya, Jendral Sudirman & Tan Malaka banyak berperan pada PR pertama untuk meredam agresi militer.

Sementara Sjahrir dan Bung Hatta fokus pada misi kedua, mendapatkan pengakuan dunia internasional. Dalam upaya menuntaskan misi kedua ini, ada 2 prestasi yang membuat Bung Kecil dikenang sebagai diplomat ulung yang sangat cerdik membaca situasi dunia internasional. Pertama adalah keputusan cerdiknya untuk memberikan bantuan pada India yang saat itu sedang krisis pangan, dengan mengirim 500,000 ton beras pada tanggal 20 Agustus 1946. Kecerdikan dan siasatnya dapat kita jadikan sebagai wawasan dalam menyusun strategi perang kita dalam mencapai mimpi kita kan, Sahabat Logis?

Mohammad Husni Thamrin lahir di Sawah Besar, pada 16 Februari 1894. Kala itu, Sawah Besar dikenal dengan nama Weltevreden. Semasa belia, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dalam berpikir dan bertindak. Maka wajar, kemudian ia mampu menjalankan tugas-tugasnya sebagai pelayanan pelayaran Belanda (Koninlijke Paketvaart Maatschappij) dan berkantor di Weltefreden. Konsistensi dalam memperjuangkan nasib bangsanya kemudian ia realisasikan dengan mengajukan mosi kepada pemerintah Batavia melalui Volksraad. Yakni mengenai penggunaan kata “Indonesia” yang diajukan sebagai pengganti dari kata “Indie”, dalam undang-undang yang berlaku kala itu, atau dalam keseharian. Hanya saja, usul tersebut ditolak oleh pemerintah Belanda, walau seluruh anggota Volksraad mendukungnya.

Sejak itu, M.H. Thamrin diberikan pengawasan ketat terhadap segala kegiatan politiknya oleh kepolisian Belanda. Hingga ditetapkan sebagai tahanan kota, karena dianggap sebagai mata-mata Jepang, yang mulai bersiap melancarkan serangannya ke Indonesia pada tahun 1941. Ia memang tidak sempat merasakan suasana kemerdekaan beberapa tahun kemudian. Namun, perjuangannya semoga dapat menjadi contoh bagi kita semua saat ini. Agar tidak hanya dapat dikenang, melainkan mampu menginspirasi kita semua.

Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape atau yang dikenal dengan Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa ke 16. Sultan Hasanuddin sejak kecil memiliki bakat di bidang kepemimpinannya, hal itu dapat terbukti ketika Ia mewakilkan ayahnya dalam sebuah pertemuan dengan raja-raja di nusantara. Pada saat beranjak ke usia 21 tahun, ia sudah diangkat menjadi kepala urusan pertahanan kerajaan Gowa.

Dalam peperangan tersebut, Sultan Hasanuddin tidak pernah gentar maupun takut kepada pasukan Belanda Bahkan dalam keterpurukannyapun Sultan Hasanuddin terus melawan dan melawan para pasukan Belanda sehingga pasukan Belanda mengalami banyak kerugian dalam perang tersebut. Pada tahun 1669 Kerajaan Gowa harus di taklukan oleh pasukan Belanda. Disaat terakhir pun Sultan Hasanuddin rela melepaskan jabatannya sebagai Raja Gowa dan menolak untuk bekerja di bawah kekuasaan Belanda. Sehingga Sultan Hasanuddin dijuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur atau Bahasa belandanya adalah De Haantjes van Het Oosten.

Wah, sungguh luar biasa perjuangan para pahlawan untuk dijadikan motivasi generasi muda untuk memperjuangkan cita-cita di masa yang akan datang ya Sahabat Logis!

Selanjutnya kita berada di segmen pahlawan masa kini nih Sahabat Logis. Di segmen ini akan ada informasi tentang bagaimana perjuangan yang berkaitan tentang pendidikan seperti di bangku perkuliahan. Seperti apasih? Yuk mari kita simak Sahabat Logis!

Kalau Sahabat Logis sendiri, gimana perjuangannya sampai detik ini?

Halo sahabat logis! Setelah kita membaca perjuangan para pahlawan di segmen sebelumnya. Di segmen kali ini terdapat pesan-pesan dari pahlawan kepada generasi muda guna untuk menumbuhkan semangat diri pada generasi muda. Yuk mari kita simak!

Halo sahabat logis kita beralih ke segmen intermezzo nih. Di segmen ini akan ada pantun dan puisi dengan tema pahlawan loh. Yuk langsung saja kita simak!

Wah pasti segmen ini yang paling ditunggu-tunggu sama Sahabat Logis nih. Yups, betul sekali quiz time. Gimana masih semangat kan ya? Yuk langsung ikutan quiz yang super menarik dan dapatkan hadiahnya!

https://bit.ly/KuisMadingLogisVol3

Sekarang kita berada di segmen UKM PP Achievement. Di segmen ini akan menampilkan prestasi dari fungsionaris UKM PP. Check this out!

s

 Tidak terasa ya kita sudah di penghujung Mading Logis Vol. 3 ini. Sebagai penutup, yuk Sahabat Logis mengenal program kerja yang sudah terlaksana di UKM Pendidikan dan Penalaran di bidang 2 tentang kepenulisan yaitu Forum Diskusi Ilmiah (FDI), Karya Ilmiah Mahasiswa (KIM) dan bidang 3 tentang penelitian dan pengembangan teknologi yaitu Penelitian Ilmiah (PI).

Forum Diskusi Ilmiah (FDI)

Program kerja FDI bertujuan untuk mengembangkan daya nalar fungsionaris dalam menganalisis serta menemukan solusi atas permasalahan teknologi, kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan sosial budaya di berbagai negara, melatih kepercayaan diri serta kemampuan public speaking fungsionaris melalui debat dan diskusi. FDI menghasilkan output esai yang tentunya keren loh Sahabat Logis. Yuk kita lihat esai terbaiknya!

Karya Ilmiah Mahasiswa (KIM)

Program kerja KIM bertujuan untuk mengembangkan kreativitas dan daya nalar fungsionaris melalui KIM, mewujudkan insan yang lebih kritis dan berprestasi pada fungsionaris dalam pembuatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 Bidang dan PKM-GFK, AI, GT. Yuk kita lihat judul PKM terbaik yang telah dibuat oleh para fungsionaris!

Penelitian Ilmiah (PI)

Program kerja PI bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kemampuan analitis fungsionaris dalam menghadapi tantangan Era Society 5.0 khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknologi, lingkungan, dan sosial budaya, meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan logis fungsionaris melalui penulisan Artikel Ilmiah dan Karya Tulis Ilmiah. Dalam program kerja ini para fungsionaris telah membuat Karya Tulis Ilmiah terbaiknya. Dan berikut adalah judul Karya Tulis Ilmiah terbaik yang telah dibuat oleh para fungsionaris.

Terima kasih banyak Sahabat Logis yang sudah berkunjung ke website UKM Pendidikan dan Penalaran. Semoga ilmu yang kita dapat menjadi bermanfaat bagi kita semua!
See you on the next volume Mading Logis Online Sahabat Logis! PP! Logis!

Sources:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *